Postingan

Masjid 99 Kubah Ikon Wisata Makassar

Gambar
Masjid megah baru segera hadir di Makassar. Masjid yang akan dibangun di area Center Point of Indonesia (CPI) Makassar ini akan menelan anggaran yang cukup fantastis, Rp. 169 miliar, dan pembangunannya segera dimulai Juni 2017 ini. Int Sesuai desainnya, masjid ini menggunakan 99 kubah, sesuai asmaul husnah, dengan ornamen Timur Tengah. Lokasinya sangat strategis di Tanjung Bunga, pesisir barat Pantai Losari, Makassar, Sulawesi Selatan. Masjid megah ini tentu saja akan menjadi magis bukan saja jamaah Muslim tapi juga untuk para pelancong. Selain bangunan megah, lokasinya juga menarik karena berada di atas bantaran laut Tanjung Bunga. Tanjung Bunga kini telah disulap menjadi kota mandiri seiring pesatnya pembangunan di Makassar. Tanjung Bunga sekaligus milik kaum urban yang lahannya kini berubah menjadi area komersialisasi properti. Int Kondisi ini pun memacu pertumbuhan ekonomi di ibu kota Sulawesi Selatan ini. Tanjung Bunga sekaligus pula menjadi areal kunjungan ...

6 Cara Jitu Bisa Tingkatkan Pariwisata Toraja

Gambar
Arus globalisasi memunculkan banyak kesempatan baru dalam pertumbuhan ekonomi daerah, salah satunya di sektor pariwisata. Lebih khusus pariwisata Toraja. Pariwisata Toraja sepertinya stagnan, jika tidak ingin disebut jalan di tempat.  Dalam dua dekade lebih, jumlah kunjungan wisatawan mancanegara menurun drastis, meski terlihat gairah pasar pariwisata Toraja mulai meningkat di 2016. Bayangkan, tahun 1997, animo wisawatan dunia maupun mancanegara berkunjung ke Toraja mencapai 84.164 orang, lalu menurun perlahan hingga titik drastis tahun 2007 di kisaran 18.000-an orang.  Namun, beberapa tahun terakhi, hingga sepanjang 2016 saja, kunjungan wisatawan mulai cerah dan diklaim mencapai 70.000-an, sesuai dilansir rakyatku.com (Desember 2016). Namun, Toraja masih punya banyak kesempatan untuk maju, apalagi Toraja saat ini sebagai salah satu kawasan strategis pariwisata nasional.   Di era globalisasi ini, Toraja harus bersaing dengan banyak daerah. Munculnya destinasi wisata baru,...

Jurnalisme Modern dan Layanan Kekanak-kanakan

Era modern membawa perubahan drastis bagi penghuni bumi. Digitalisasi memaksa kita mengupgrade pengetahuan, lalu tergiring dan mengikutinya, terutama mereka yang berdomisili di perkotaan. Tentu saja, era ini mengembalikan kita ke zaman kanak-kanak. Era kemudahan dan tak ingin belepotan dengan berbagai problematik yang menguras tenaga dan pikiran. Lihatlah banyak orang yang berupaya mengisi waktu lowong dengan bermain game, yang sifatnya menarik dan menghibur. Orang-orang kota dimanjakan dengan layanan aplikasi transportasi yang bisa diakses dari rumah, seperti layanan angkutan roda dua dan empat. Tak perlu menelepon taksi dan berjibaku di halte-halte bis. Cukup memesan alat transportasi lewat aplikasi itu, lalu penyedia alat transportasi akan menjemput di pintu rumah dan mengantar ke tempat tujuan. Demikian halnya saat ingin berbelanja. Tak perlu ke mal, cukup buka aplikasi dan memesan barang belanjaan. Meski demikian masih banyak yang melakukan cara lama. Namun, apapun itu...

Benarkah Koran akan Segera "Mati"?

Banyak pernyataan yang menyebut media cetak segera "binasa" dalam waktu dekat, seiring dengan pesatnya digitalisasi media saat ini. Media online yang begitu mudah dibuat dan berkembang dianggap sebagai salah satu "pembunuh" media cetak. Dalam beberapa obrolan ringan dengan beberapa kawan di warung-warung kopi, bahkan di kantor kami di Alharam Grup, tempat kami membangun sebuah koran baru bernuansa dakwah, kerap dengan mantap saya katakan tidak yakin dengan perkiraan banyak orang itu. Keyakinan bahwa media cetak masih punya tempat menjadi pelecut semangat saya atas ajakan dua teman yang sejak awal kukuh untuk tetap menghadirkan sebuah media cetak, paling tidak dengan segmentasi berbeda. Opsi kami sama, belum yakin atas pendapat banyak orang yang dengan buru-buru menyebut usia koran, sebutan media cetak harian, akan segera tenggelam di makan zaman. Pernyataan makin pendeknya usia koran dan media cetak lainnya juga pernah mengemuka di saat radio-radio s...

Iklas sebagai Pebakti

Gambar
IDUL kurban tahun ini, 10 Dzulhijjah 1437 (12 September 2016), saya dan keluarga tidak sempat pulang kampung sebagaimana kami lakukan di tahun-tahun sebelumnya. Saya tak sempat merayakannya dengan orangtua, begitupun mertua. Memang sepertinya ada sesuatu yang hilang, karena kami tidak biasa melakukannya di Makassar di mana kami berdomisili. Meski demikian, saya dan tentu istri hanya sempat mengobrol dengan orangtua masing-masing, bersenda gurau sekaligus meminta maaf lahir bathin. Sebagai orang kampung, ini tentu tidak biasa buat kami. Namun, harus kami jalani karena berbagai halangan yang mendera. Waktu libur sekolah anak yang mepet hingga kesibukan saya dan istri mencari kehidupan di kota. Sedih tentu saja, karena hampir setiap orang perantauan selalu mudik di momen seperti ini, tak terkecuali saya, apalagi kedua orangtua masih hidup. Namun, saya dan istri tak perlu berkecil hati, toh Idul Fitri beberapa bulan lalu kami masih sempat mudik dan berkumpul bersama dengan o...

Berburu Kobaran Api

sisi lain: SELASA enam Januari dua ribu sembilan..tidak terasa sudah lima bulan lamanya saya bergelut sebagai jurnalis teve...setelah empat tahun lebih mencari pengalaman di salah satu media cetak... Ingatan saya berpetualang ke lima bulan lalu...tiba-tiba sebuah kabar menghentak: Kebakaran di Pannampu. Mendengar informasi itu...motor bebek hitam-biru segera kupacu dan meliuk di tengah padatnya kendaraan yang berbaris di jalan raya. Sesekali..ngiikkk...rem depan yang masih pakem berbunyi. Tidak jauh dari Pasar Pannampu...saya langsung mendekati asap hitam membubung tinggi tepat di belakang pasar itu. Si bebek kuparkir dan menyelinap di tengah lalu lalang warga. Kobaran api terus menyelimuti permukiman padat penduduk di RW 01, Kelurahan Pannampu, Kecamatan Tallo, Makassar. Suara teriakan minta tolong dan tangis warga membahana di tengah hiruk pikuk warga yang berseliweran membantu menyelamatkan harta benda. Bunyi sirine mobil pemadam memekik dan berusaha menembus lautan manusia yang bej...

Agresi Israel, Aksi Ketamakan

Kelabu pergantian tahun di Palestina: MESKI menuai kecaman dari berbagai belahan dunia, zionis Israel terus melancarkan agresi militer ke Jalur Gaza, Palestina, sejak sepekan terakhir. Sedikitnya 400 warga sipil, termasuk perempuan dan anak-anak dilaporkan tewas, berikut ribuan orang terluka. Infrastruktur luluh lantak dihantam bom, kerugian materil di negara miskin itu pun tentu tidak tanggung-tanggung. Nasib warga muslim Palestina yang terus menjadi bulan-bulanan Israel semakin memiriskan. Negara-negara dunia tidak mampu melobi Israel untuk menghentikan agresi itu, pun dewan keamanan PBB. Lalu, adakah negara di dunia, terutama negara (mayoritas) Islam yang dengan tegas berani angkat senjata untuk menyerang Israel atas tindakannya yang mulai lupa daratan? Jika dirunut dari sejarah, tekanan Israel ke Palestina boleh jadi sebuah ketamakan, rakus dalam penguasaan wilayah. Buktinya, dari tahun 1946, peta dunia masih menempatkan Palestina di ranah daratan yang luas, yang meliputi beberapa...